Setiap ibu pastinya sangat fokus
terhadap setiap perkembangan anaknya hari lepas hari. Termasuk saya adalah ibu
yang sangat teliti melihat perkembangan si cantik abel. Hari lepas hari saya
pastikan setiap pergerakannya. Sekalipun memang saya ga bisa full time buat abel di rumah, tetapi
paling tidak, waktu yang ada saya usahakan dan berikan bersama abel.
Saya pernah baca dan dengar
tentang “golden age” atau sering dikatakan masa emas seorang anak untuk mengeksplorasikan
apa yang dia lihat, dengarkan dan rasakan. Masa seorang anak mengoptimalkan
potensi otaknya.
Awalnya saya berpikir, kelak
suatu saat abel akan saya ajarkan banyak hal. Kata “kelak” sebenarnya menjadi
batasan bagi saya untuk membantunya mengoptimalkan potensi otaknya. Seiring
perjalanan waktu, saat-saat dimana saya belajar fokus memperhatikan perkembangan
abel, ada hal yang saya pelajari dan membuat saya tersadar.
Setiap makan malam, biasanya
saya, suami dan tante abel selalu makan bersama, dan sebelum makan kita selalu
berdoa. Demikian juga, setiap saya dan suami hendak tidur, kita biasanya berdoa,
dan tidak lupa abel ada diantara kami. Beberapa minggu kemudian, setiap kita
hendak makan malam, sekejap hidangan masih dalam proses disajikan, abel sudah
mengambil sikap duduk dan melipat tangan, demikian juga, sekejap kita masuk
kamar dan duduk, abel juga turut serta duduk dan melipat tangan (sikap berdoa
yang biasa dilihatnya dari kami). Saya tersadar, betapa sebenarnya seorang anak
bisa dengan cepat menangkap dan mengaplikasikan apa yang dilihatnya. Hal ini
semakin memotivasi saya untuk mengisi sel-sel otaknya di masa “golden age” nya.
Menjadi tanggungjawab seorang ibu
sebenarnya untuk mengisi masa “golden age” ini dengan kebersamaan bersama si
kecil. Mengajarkan hal-hal yang bermanfaat yang menjadi pelajaran berharga
buatnya. Mengajarkan etika-etika dalam berkomunikasi. Memang ada banyak hal yang
saat ini dunia sediakan seperti gadget yang telah menyediakan begitu banyak
hiburan, pendidikan bagi anak. Tetapi semuanya itu tidak akan pernah bisa
membayar ruang yang dibutuhkan oleh seorang anak, yaitu kebersamaan dan kasih
di masa “golden age” nya.
Sejak saat itu, saya tidak pernah
melewatkan waktu yang ada, apalagi saya adalah seorang pekerja yang hanya
memiliki waktu 3-5 jam buat anak saya di rumah. Sebisa mungkin HP saya jauhkan
dari pandangan, dan waktu yang ada saya gunakan untuk menikmati kebersamaan
bersama anak saya.
Saya belajar, begitu cepatnya
abel belajar dan menangkap apa yang kita beritahukan kepadanya.
Akhir-akhir
ini, ada beberapa hal yang sering saya lakukan bersamanya, yaitu :
- Saya menyediakan sebuah celengan di rumah. Dan di usainya yang masih 1 tahun 2 bulan, saya katakan “Sayang, ini namanya duit logam, ini namanya celengan. Jadi kalau ada duit kayak gini, abel masukin ke celengan yah” (sambil memperagakan apa yang saya lakukan). Setiap hari, sepulang kantor, setiap saya memiliki koin recehan, saya berikan ke abel, dan tanpa saya perintahkan, abel sudah otomatis mencari celengan dan memasukkan koin recehan yang di tangannya.
- Sehabis makan malam, saya selalu menyanyikan beberapa lagu dengan gerakan-gerakan yang sesuai buat abel di kamar. Dan setiap harinya, seketika saya ajak dia nyanyi, abel otomatis akan membuat gerakan dari lagu yang kami nyanyikan.
- Setiap hari saya selalu omongin ke abel, “sayang, kalau abel mau pipis, mau pup (sambil menunjukkan bagian tubuh), abel ngomong ke bunda yah. “bunda pipis..bunda pup”, ntar bunda bersihin di kamar mandi (sambil menunjuk kamar mandi). Beberapa hari berikutnya, setiap abel mau pipis atau pup abel selalu memanggil saya “mma..ngggg (sambil menunjuk pempers yang dipakainya). Dengan demikian saya tahu kalau dia sedang buang air besar/kecil.
Ada banyak hal
yang dapat kita lakukan untuk mengisi waktu dan masa-masa “golden age” yang
dimilikinya. Mungkin bagi kita, terlalu dini berkata-kata atau mengajarkan
hal-hal di sekitar kita. Mungkin kita berpikir kalau dia pasti belum mengerti.
Tetapi saya belajar dari abel, bahwa apapun yang saya katakan ataupun peragakan
pasti ada saat dimana akhirnya abel memperagakan hal yang sama. Artinya, apapun
yang kita lakukan dan berikan kepada anak kita semuanya ditangkap dan direkam
dalam memorinya karena masa ini adalah masa emas bagi mereka.
Menurut saya,
bukan hanya abel, tetapi semua anak memiliki kemampuan yang sama. Mari kita
para ibu, gunakan waktu yang ada buat mereka. Kemajuan teknologi, gadget, hp
keren bukanlah jawaban pada masa “golden age” mereka. Tetapi kebersamaan,sikap,
perilaku dan pengajaran yang berharga menjadi kenangan terindah yang dimiliki
anak kita kelak.
Salam kasih
God Bless
Tidak ada komentar:
Posting Komentar